Suatu hari nanti, kita semua akan pergi.
Tubuh ini akan dikubur atau dibakar, nama kita perlahan akan memudar dari percakapan, dan wajah kita hanya akan tersisa di foto-foto yang berdebu. Tapi sebelum kita pergi, kita akan meninggalkan sesuatu, yaitu warisan.
Pertanyaannya bukan “apa” yang akan kita wariskan, tapi “seperti apa” bentuknya.
Apakah itu akan menjadi jalan yang lebih mulus bagi mereka yang datang setelah kita?
Atau justru tumpukan puing yang harus mereka bersihkan?
Bangsa ini berdiri di atas warisan dari generasi sebelumnya: tanah yang luas, budaya yang kaya, bahasa yang mempersatukan, tapi juga luka yang dalam.
Luka itu berupa korupsi yang diwariskan turun-temurun, ketidakadilan yang dianggap normal, dan kemunafikan yang dibungkus rapi.
Kita menerima semua itu tanpa perlawanan berarti, seolah-olah itu memang bagian dari paket “menjadi warga negara di sini.”
Aku sering mendengar orang berkata, “Kalau mau memperbaiki negeri ini, butuh waktu ratusan tahun.”
Kalimat itu terdengar bijak, tapi sebenarnya juga sebuah alasan untuk tidak berbuat apa-apa. Karena kalau kita percaya butuh ratusan tahun, maka kita merasa tidak perlu melakukannya sekarang. Padahal, setiap perubahan besar selalu dimulai dengan satu langkah kecil. Dan langkah itu tidak harus sempurna—yang penting, ia ada. Masalahnya, kita sering berpikir bahwa warisan berarti sesuatu yang besar: gedung, perusahaan, jabatan, kekayaan.
Kita lupa bahwa warisan bisa berupa cara hidup, cara memperlakukan orang lain, cara menjaga kejujuran, bahkan cara menghadapi kesalahan. Kalau kita memilih untuk membiarkan kebohongan, ketidakadilan, dan kemalasan tetap hidup, maka itu yang akan kita wariskan. Dan generasi berikutnya akan tumbuh menganggap semua itu wajar.
Luka yang diwariskan bukan hanya soal ekonomi atau politik. Ada luka mental yang lebih sulit disembuhkan: rasa rendah diri yang tertanam dalam, kebiasaan saling curiga, dan ketidakmampuan untuk percaya pada kebaikan kolektif. Kita belajar untuk menjaga jarak, bahkan dari sesama warga negeri ini, karena kita terbiasa disakiti oleh orang yang seharusnya berada di pihak kita. Kalau kita mau jujur, banyak dari kita terlalu sibuk menyelamatkan diri sendiri untuk peduli pada generasi berikutnya.
Kita mengejar kenyamanan hari ini, sambil menutup mata pada masalah yang akan membusuk di esok hari. Kita lupa bahwa anak-anak kita akan hidup di rumah yang sama dengan kita—rumah yang akan mereka tempati setelah kita pergi.
Apakah kita ingin meninggalkan rumah itu penuh sampah, atau setidaknya cukup layak untuk mereka tempati?
Kadang aku bertanya-tanya, apakah kita benar-benar mencintai negeri ini, atau kita hanya mencintai manfaat yang kita dapat darinya. Karena cinta sejati tidak hanya menikmatinya ketika ia indah, tapi juga merawatnya ketika ia sakit. Kalau kita hanya mau menerima yang baik dan menolak mengakui yang buruk, maka cinta itu palsu. Dan cinta palsu hanya akan meninggalkan luka, bukan penyembuhan.
Di akhir hidup, kita semua akan menjadi bagian dari cerita bangsa ini—entah sebagai orang yang menambah luka, atau orang yang setidaknya mencoba menghentikannya. Pilihan itu tidak akan diumumkan di televisi, tidak akan diberi piagam penghargaan, tidak akan viral di media sosial.
Pilihan itu sunyi, pribadi, dan sering kali tidak terlihat.
Tapi pilihan itu akan terasa di masa depan, ketika anak-anak yang belum lahir tumbuh di negeri yang sedikit lebih adil, sedikit lebih jujur, sedikit lebih manusiawi—karena kita memilih untuk memperbaikinya sekarang. Mungkin kita tidak akan hidup cukup lama untuk melihat negeri ini sembuh sepenuhnya. Mungkin kita hanya akan sempat menanam satu pohon di tanah yang gersang.
Tapi pohon itu bisa menjadi teduh bagi seseorang di masa depan yang bahkan tidak mengenal nama kita.
Dan itu cukup.
Karena warisan terbaik bukanlah yang membuat nama kita diingat, tapi yang membuat hidup orang lain menjadi sedikit lebih baik.
Jakarta, 31 Agustus 2025
Anan Abdul Azis

